LAPORAN
PENDAHULUAN
ASUHAN
KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH
DENGAN
TUBERCULOSIS PARU
1.
Definisi
Tuberkulosis
(TB) adalah penyakit infeksi menular, sebagian besar kuman TB menyerang paru
yang disebut dengan TB paru (Price et al, 2005;
Sujadi et al, 2007). TB dapat juga
mengenai organ tubuh lainnya seperti kulit, otak, tulang, usus, ginjal, saluran
pencernaan, dan kelenjar limfe yang sering disebut sebagai TB ekstra paru (Tobing
Tl, 2009: Teo EY, Txe CW,
2011 ).
Pembagian
tuberculosis (Nurarif, 2013):
1. Pembagian
secara patologis
a. Tuberculosis
primer (childhood tuberculosis)
b. Tuberculosis
post-primer (adult tuberculosis)
2. Pembagian
secara aktivitas radiologis yaitu tuberculosis paru (Koch pulmonum), non aktif
dan quiescent (bentuk aktif yang menyembuh)
3. Pembagian
secara radiologis (luas lesi)
a. Tuberculosis
minimal
b. Moderately
advanced tuberculosis
c. Far
advanced tuberculosis
Klasifikasi
menurut American Thoracic Society (Nurarif,
2013):
1. Kategori
0: tidak pernah terpajan dan tidak terinfeksi, riwatay kontak negative, tes
tubekulin negative
2. Katergori
1: terpajan tuberculosis, tapi tidak terbukti ada infeksi, riwayat kontak
positif, tes Tuberkulin negative.
3. Kategori
2: terinfeksi tuberculosis, tetapi tidak sakit. Tes tuberculin positif,
radiologis dan sputum negative.
4. Kategori
4: Terinfeksi tuberculosis dan sakit
Klasifikasi
diindonesia dipakai berdasarkan kelainan klinis, radiologis dan makrobiologis
(Nurarif, 2013):
1. Tuberculosis
paru
2. Bekas
tuberculosis paru
3. Tuberculosis
paru tersangka, yang terbagi dalam:
a. Tuberculosis
tersangka yang diobati: sputum BTA negative, tetapi tanda-tanda lain positif
b. Tuberculosis
tesangka yang tidak diobati: sputum BTA negative, dan tanda-tanda lain juga
meragukan.
Klasfikasi
menurut WHO 1991 TB dibagi dalam 4 kategori, yaitu (Nurarif, 2013) :
1. Kategori
1,ditujukan terhadap
a.
Kasus baru dengan
sputum positif
b.
Kasus baru dengan
bentuk TB berat
2. Kategori
2, ditujukan terhadap
a. Kasus
kambuh
b. Kasus
gagal dengan sputum BTA positif
3. Kategori
3, ditujukan terhadap
a. Kasus
BTA negative degan kelainan paru yang luas
b. Kasus
TB ekstra paru selain ari yang disebut dalam kategori 1
4. Kategori
4, ditujukan terhadap TB kronik
2.
Etiologi
Tuberkulosis
paru-paru merupakan penyakit infeksi disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosa. Basil ini tidak berspora sehingga mudah
dibasmi dengan pemansan, sinar matahari, dan sinar ultra violet. Ada dua macam
mikobacteria tuberculosis yaitu tipe human dan tipe bovin. Basil tipe bovin
berada dalam susu sapi yang menderita mastitis tuberkolosis usus. Basil tipe
human bisa berada di bercak ludah (droplet) di udara yang berasaldari penderita
TBC terbuka dan orang yang rentan terinfeksi TBC ini bila menghirup bercak ini.
Perjalan TBC setelah infeksi melalui udara (Nurarif, 2013).
3.
Manifestasi
Klinis
Gambaran klinis TB paru dapat dibagi menjadi 2 golongan,
yaitu gejala respiratorik dan gejala sistemik (Mandal dkk, 2004).
1.
Gejala
respiratorik, meliputi :
a.
Batuk
lebih dari 3 minggu
b.
Batuk
darah
c.
Sesak
napas.
d.
Nyeri
dada
2.
Gejala
sistemik, meliputi :
a.
Demam
selama lebih dari 3 minggu
b.
Gejala
sistemik lain.
Gejala
sistemik lain ialah berkeringat dimalam hari tanpa aktivitas, anoreksia,
penurunan berat badan serta malaise.
4.
Patofisiologi
dan Web of Caution (Nurarif, 2013)
|
Microbacterium
tuberculosa
|
|
Droplet infection
|
|
Masuk lewat jalan
napas
|
|
Menempel pada paru
|
|
Keluar dari
tracheobionchial bersama secret
|
|
Dibersihkan oleh
makrofag
|
|
Menetap di jaringan
paru
|
|
Sembuh tanpa
pengobatan
|
|
Terjadi proses
peradangan
|
|
Pengeluaran zat pirogen
|
|
Tumbuh dan berkembang di sitoplasma makrofag
|
|
Mempengaruhi hipotalamus
|
|
Sarang primer/afek primer (focus ghon)
|
|
Mempengaruhi sel
point
|
|
Hipertermi
|
|
Komplek primer
|
|
Limfangitis Lokal
|
|
Limfadinitis
regional
|
|
Sembuh sendiri
tanpa pengobatan
|
|
Menyebar ke organ
lain (paru lain,saluran pencernaan, tulang) melalui media (bronchogen,
percontinuitum, hematogen, limfogen)
|
|
Sembuh dengan bekas
fibrosis
|
|
Alveolus
|
|
Pertahanan primer
tidak adekuat
|
|
Berkembang
menghancurkan jaringan ikat sekitar
|
|
Pembentukan
tuberkel
|
|
Bagian tengah
nekrosis
|
|
Membentuk jaringan
keju
|
|
Pembentukan sputum
berlebihan
|
|
Ketidakefektifan bersihan jalan nafas
|
|
Kerusakan membran alveolar
|
|
Menurunnya permukaan
efek paru
|
|
Radang tahunan
bronkus
|
|
Secret keluar saat
batuk
|
|
Batuk produktif
(batuk terus menerus
|
|
Droplet infection
|
|
Terhirup orang sehat
|
|
Batuk berat
|
|
Distensi abdomen
|
|
Mual, muntah
|
|
Intake nutrisi
kurang
|
|
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh
|
|
Alveolus
mengalami konsolidasi dan eksudasi
|
|
Gangguan pertukaran gas
|
|
Resiko infeksi
|
Bagan
1. Patofisiologi Penyakit Tuberculosis Paru
5.
Pemeriksaan
Penunjang
Diagnosis
TBC Paru pada orang dewasa dapat ditegakkan dengan ditemukannya BTA pada
pemeriksaan dahak secara mikroskopis hasil pemeriksaan dinyatakan positif
apabila sedikitnya dua dari tiga spesimen SPS BAT hasilnya positif (Depkes RI,
2000).
Bila
hanya 1 spesimen yang positif perlu diadakan pemeriksaan lebih lanjut yaitu
foto rontgen dada atau pemeriksaan dahak SPS diulang (Depkes RI, 2000).
1. Kalau
hasil rontgen mendukung TBC, maka penderita didiagnosis sebagai penderita TBC
positif
2. Kalau hasil rantgen tidak mendukung TBC maka
pemeriksaan dahak SPS diulangi
Apabila
fasilitas memungkinkan maka dilakukan pemeriksaan lain misalnya biakan. Bila
ketiga spemen dahak hasilnya negatif diberikan antibiotik spektrum luas ( misalnya
kotrimoksasol atau Amoksisilin) selama 1-2 minggu bila tida ada perubahan namun
gejala klinis tetap mencurigakan TBC ulangi pemeriksaan dahak SPS.
1. Kalau
hasil SPS positif diagnosis sebagai penderita TBC BTA positif
2. Kalau
hasil SPS tetap negatif lakukan pemeriksaan foto rontgen dada untuk mendukung
diagnosis TBC
3. Bila
hasil rontgen mendukung TBC didiagnosis sebagai penderita TBC BTA negatif
rontgen positif
4. Bila
hasil rantgen tidak di dukung TBC penderita tersebut bukan TBC
5. UPK
yang tidak memiliki fasilitas rontgen penderita dapat dirujuk untuk foto
rontgen dada (Depkes RI, 2000).
|
Hasil BTA
+++
++ -
|
|
Hasil
BTA
+ - -
|
|
Hasil
BTA
- - -
|
|
Ulangi Periksa Dahak SPS
|
|
Beri
Antibiotik Spektrum Luas
|
|
Ada Perbaikan
|
|
Tidak Ada Perbaikan
|
|
Periksa
Rontgen Dada
|
|
Hasil Mendukung TBC
|
|
Hasil Tidak Mendukung
TBC
|
|
Penderita TBC
BTA Positif
|
|
Hasil
BTA
+++
++
-
+
- -
|
|
Periksa Rontgen Dada
|
|
Hasil Mendukung TBC
|
|
Hasil Rontgen Neg
|
|
TBC BTA Neg Rontgen Pos
|
|
Bukan TBC Penyakit Lain
|
|
Hasil BTA
-
- -
|
|
Tersangka Penderita TBC (Suspek TBC)
|
|
Periksa Dahak Sewaktu, Pagi, Sewaktu
(SPS)
|
Bagan
2. Alur Diagnosis tuberkulosis Paru Pada Orang Dewasa
Menurut referensi lain, pemeriksaan penunjang yang dapat
dilakukan adalah (Aditama, 2005):
1. Laboratorium darah rutin (LED normal atau meningkat,
limfositosis).
2. Foto toraks PA dan lateral. Gambaran foto toraks yang
menunjang diagnosis TB, yaitu :
a. Bayangan lesi terletak dilapangan atas paru atau segmen
apikal lobus bawah.
b. Bayangan berawan (patchy) atau berbercak (nodular).
c. Adanya kavitas, tunggal atau ganda.
d. Kelainan bilateral, terutama dilapangan atas paru
e. Adanya kalsifikasi.
f.
Bayangan
menetap pada foto ulang beberapa minggu kemudian.
g. Bayangan milier.
3. Pemeriksaan sputum BTA.
Pemeriksaan sputum BTA memastikan diagnosis TB paru,
namun pemeriksaan ini tidak sensitif karena hanya 30 – 70 % pasien TB yang
dapat didiagnosis berdasarkan pemeriksaan ini.
4. Tes PAP (Peroksidase anti Peroksidase)
Merupakan uji serologi imunoperoksidase memakai alat
histogen imunoperoksidase staining untuk menentukan adanya IgG spesifik
terhadap hasil TB.
5. Tes Mantoux/Tuberkulin
a. Pembengkakan (Indurasi)
: 0–4mm,uji mantoux negatif.
Arti klinis : tidak ada infeksi Mikobakterium
tuberkulosa.
b. Pembengkakan (Indurasi) : 3–9mm,uji mantoux meragukan.
Hal ini bisa karena kesalahan teknik, reaksi
silang dengan Mikobakterium
atipik atau
setelah vaksinasi BCG.
c. Pembengkakan (Indurasi)
: ≥ 10mm,uji mantoux positif.
Arti klinis :
sedang atau pernah terinfeksi Mikobakterium tuberkulosa.
6.
Penatalaksanaan
Medis
1. Obat
anti TB (OAT) (Price et al, 2005)
OAT harus diberikan dalam kombinasi sedikitnya dua obat yang bersifat
bakterisid dengan atau tanpa obat ketiga.
Maka
pengobatan TB dilakukan melalui 2 fase, yaitu :
a.
Fase
awal intensif, dengan kegiatan bakterisid untuk memusnahkan populasi kuman yang
membelah dengan cepat.
b.
Fase
lanjutan, melalui kegiatan sterilisasi kuman pada pengobatan jangka pendek atau
kegiatan bakteriostatik pada pengobatan konvensional.
OAT yang biasa
digunakan antara lain isoniazid (INH), rifampisin (R), pirazinamid (Z), dan streptomisin
(S) yang bersifaat baakterisid dan etambutol (E) yang bersifat bakteriosattik.
Tabel 1. Panduan OAT pada TB paru (WHO 1993)
|
Panduan OAT
|
Klasifikasi
dan Tipe penderita
|
Fase awal
|
Fase lanjutan
|
|
Katagori 1
Katagori 2
Katagori 3
|
·
BTA (+) baru
·
Sakit berat : BTA (-) luar paru
Pengobatan ulang :
·
Kambuh BTA (+)
·
Gagal
·
TB paru BTA (-)
·
TB luar paru
|
2HRZS(E)
2RHZS(E)
2RHZES/1RHZE
2RHZES/1RHZE
2RHZ
2RHZ/2R3H3Z3
|
4RH
4R3H3
5RHE
5R3H3E3
4RH
4R3H3
|
Keterangan :
2HRZ = tiap hari selama 2 bulan
4RH = tiap hari selama 4 bulan
4H3R3 = 3 kali seminggu selama 4 bulan
Tabel 2.Dosis obat antituberkulosis
|
Obat
|
DOSIS
|
||
|
Setiap hari
|
Dua kali/minggu
|
Tiga kali/minggu
|
|
|
Isoniazid
Rifampisisn
Pirazinamid
Etambutol
Streptimisin
|
5 mg/kg
Maks. 300 mg
10 mg/kg
Maks. 600 mg
15 – 30 mg/kg
Maks. 2 gram
15 – 30 mg/kg
Maks. 2,5 g
15 mg/kg
Maks. 1 g
|
15 mg/kg
Maks. 900 mg
10 mg/kg
Maks. 600 mg
50 – 70 mg/kg
Maks.4 g
50 mg/kg
25 – 30 mg/kg
Maks. 1,5 g
|
15 mg/kg
Maks. 900 mg
10 mg/kg
Maks. 600 mg
50 – 70 mg/kg
Maks.3 g
25 - 30 mg/kg
25 – 30 mg/kg
Maks. 1,5 g
|
2.
Pembedahan
pada TB paru
Peranan pembedahan dengan adanya OAT yang poten telah
berkurang. Indikasi pembedahan dibedakan menjadi indikasi mutlak dan indikasi
relatif.
Indikasi mutlak pembedahan adalah :
1) Semua pasien yang telah mendapat OAT adekuat tetapi
sputum tetap positif.
2) Pasien batuk darah masif tidak dapat diatasi dengan cara
konservatif.
3) Pasien dengan fistula bronkopleura dan empiema yang tidak
dapat diatasi secara konservatif.
Indikasi
relatif pembedahan adalah :
a.
Pasien
dengan sputum negatif dan batuk-batuk darah berulang.
b.
Kerusakan
1 paru atau laobus dengan keluhan.
c.
Sisa
kavitas yang menetap.
3.
Directly
Observed Treatment Shortcourse (DOTS)
Directly Observed
Treatment Shortcourse (DOTS) adalah nama
untuk suatu strategi yang dilaksanakan dipelayanan kesehatan dasar di dunia
untuk mendeteksi dan menyembuhkan pasien TB.
7.
Masalah
Keperawatan dan data yang perlu dikaji
Berdasarkan klasifikasi
Doenges dkk riwayat keperawatan yang perlu dikaji adalah :
1)
Aktivitas / istirahat;
Gejala :
a. Kelelahan umum
dan kelemahan
b. Dispnea saat
kerja maupun istirahat
c. Kesulitan tidur
pada malam hari atau demam pada malam hari, menggigil atau berkeringat.
d. Mimpi buruk
Tanda :
a. Takikardia, takipnea/dispnea
pada saat kerja
b. Kelelahan otot,
nyeri.
2)
Sirkulasi
Gejala :
Palpitasi
Tanda :
a. Takikardia,
disritmia
b. Adanya S3 dan
S4, bunyi gallop (gagal jantung akibat effusi)
c. Nadi apikal
(PMI) berpindah oleh adanya penyimpangan mediastinal.
d. Tanda homman (bunyi
rendah denyut jantung akibat adanya udar dalam mediastinum)
e. TD; hipertensi
/ hipotensi
f.
Distensi vena jugularis
3)
Integritas ego
Gejala :
Gejala-gejala stres yang berhubungan
dengan lamanya perjalanan penyakit, masalah keuangan, perasaan tidak berdaya/putus
asa, menurnnya produktivitas.
Tanda :
a. Menyangkal
(khususnya pada tahap dini)
b. Ansietas,
ketakutan, gelisah, iritabel.
c. Perhatian
menurun, perubahan mental (tahap lanjut)
4)
Makanan dan cairan.
Gejala :
a. Kehilngan nafsu
makan
b. Penurunan berat
badan
Tanda :
a. Turgor kulit
buruk, kering, bersisik.
b. Kehilangan
massa otot, kehilangan lemak subkutan
5)
Nyeri dan kenyamanan.
Gejala :
a. Nyeri dada
meningkat karena pernapasan, batuk berulang
b. Nyeri
tajam/menusuk diperberat oleh napas dalam, mungkin menyebar kebahu, leher atau
abdomen.
Tanda :
Berhati-hati pada area yang sakit,
perilaku distraksi, gelisah.
6)
Pernapasan.
Gejala :
a. Batuk
(produktif atau tidak produktif)
b. Napas pendek
c. Riwayat
terpajan tuberkulosis dengan individu terinfeksi
Tanda :
a. Peningkatan
frekuensi pernapasan
b. Peningkatan
kerja napas, penggunaan otot aksesori pernapasan pada dada, leher, retraksi
interkostal, ekspirasi abdominal kuat.
c. Pengembangan
dada tidak simetris
d. Perkusi pekak
dan penurunan fremitus, pada pneumotoraks perkusi hiperresonan diatas area yang
terlibat.
e. Bunyi napas
menurun/tidak ada secara bilateral atau unilateral.
f.
Bunyi napas tubuler atau pektoral
diatas lesi.
g. Crackels diatas
apeks paru selama inspirasi cepat setelah batuk pendek (crakles posttussive)
h. Karakteristik
sputum hijau purulen, mukoid kuning atau bercak darah.
i.
Deviasi trakeal.
7)
Keamanan
Gejala :
Kondisi penurunan imunitas secara umum
memudahkan infeksi sekunder.
Tanda :
Demam ringan atau demam akut.
8)
Interaksi sosial
Gejala :
a. Perasaan
terisolasi/penolakan karena penyakit menular
b. Perubahan
aktivitas sehari-hari karena perubahan kapasitas fisik untuk melaksanakan
peran.
9)
Penyuluhan / pembelajaran.
Gejala :
a. Riwayat
keluarga TB
b. Ketidakmampuan
umum/status kesehatan buruk
c. Gagal untuk
membaiik/kambuhnya TB
d. Tidak
berpartisipasi dalam terapi
8.
Diagnosa
Keperawatan
1. Ketidakefektifan
bersihan jalan nafas b.d peningkatan sekret yang kental/darah.
2. Gangguan
pertukaran gas b.d penurunan perifer yang mengakibatkan asidosis laktat dan
penurunan curah jantung.
3. Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d dyspnea atau anoreksia.
4. Kurang
pengetahuan mengenai kondisi, aturan pengobatan berhubungan dengan kurangnya
informasi. tentang proses penyakit dan penatalaksanaan perawatan dirumah.
5. Hipertemi
b.d infeksi
6. Risiko
infeksi: faktor risiko insufiensi pengetahuan tentang pencegahan pemaparan
pathogen
9.
Rencana
Tindakan Keperawatan (secara teoritis)
|
Diagnosa Keperawatan
|
Tujuan
dan Kriteria Hasil
|
NIC
|
|
Ketidakefektifan bersihan jalan nafas b.d peningkatan sekret
yang kental/darah.
Definisi: ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau
obstruksi dari saluran pernafasan untuk mempertahankan kebersihan jalan
nafas.
Batasan Karakteristik:
a.Suara napas tambahan
b.
Perubahan frekuensi napas
c.
Perubahan irama napas
d.
Dispneu
e. Batuk
yang tidak efektif
f.
Penurunan bunyi napas
g.
Sianosis
|
Setelah dilakukan tindakan keperawaran 1 x 24 jam
diharapakan jalan nafas dapat efektif
a.
Respiratory
status: ventilation
b.Respiratory status: airway patency
Kriteria
Hasil:
a.
Mendemonstasikan
batuk efektif dan suara nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan dyspneu
(mampu mengeluarkan sputum, mampu bernafas dengan mudah, tidak ada pursed
lips)
b.
Menunjukkan
jalan nafas paten (klien tidak merasa tercekik, irama nafas, frekuensi
pernafasan dalam rentang normal, tidak ada suara nafas abnormal)
|
Airway Management
a.
Auskultasi suara nafas
1-4 jam, catat suara
nafas.
Rasional
Suara
napas secara normal bersih atau berserak bagus pada dasarnya, yang mana
bersih saat bernapas dalam (Fauziet al, 2008).
b.
Monitor pola respirasi,
kecepatan, kedalaman
dan
usaha bernafas
Rasional
Kecepatan
napas normal untuk orang dewasa tanpa dispnea adalah 12-16. Dengan sekret di
jalan napas, kecepatan respirasi akan meningkat (Bickley &Szilagy, 2009)
c.
Monitor nilai analisa gas darah dan nadi, saturasi oksigen.
Rasional
Saturasi
oksigen kurang dari 90% (normal 95% sampai 100%)atau tekanan oksigen sebagian
kurang dari 80 (normal 80-100) indikasi masalah oksigen secara signifikan
(Clrak, Giuliano &Chen,2006).
d.
Menolong pasien bernapas dalam dan mengontrol batuk . klien bernapas dengan
dalam, bernapas untuk beberapa detik, dan batuk 2 atau 3 kali melalui mulut
terbuka ketika mengencangkan otot abdominal.
Rasional
Teknik
ini dapat membantu meningkatkan pembersihan sputum dan menurunkan batuk.
Mengontrol batuk dengan menggunakan otot diafragma membuat batuk lebih kuat
dan efektif (Donahue, 2002)
e. Jika klien mempunyai penyakit paru
obstruktif seperti COPD, cystic fibrosis, bronchiectasis pertimbangan
menolong klien menggunakan teknik “huff cough”. Klien mengucapkan “huff”
ketika batuk.
Rasional
Teknik
ini untuk mencegah glottis tertutup selama batuk dan efektif membersihkan
sekret (Van der Schans, 2007; Bhowik et al, 2009).
f. Anjurkan aktivitas dan ambulasi
jika memungkinkan. Jika tidak mampu melakukan ambulasi, kembalikan klien dan
ubah posisi setiap 2 jam.
Rasional
Perpindahan
badan akan membantu memobilisasikan sekret (Nielsen, Holte & Kehlet,
2003).
g. Siapkan drainase postural, perkusi
dan vibrasi jika dianjurkan.
Rasional
Fisioterapi
dada ini merupakan teknik untuk membersihkan jalan napas (Main, Prasad &
Schans, 2005).
Kolaborasi
h. Observasi sputum, warna, bau dan
volum.
Rasional
Sputum
normal bersih atau abu, sputum abnormal berwarna hijau, kuning aran
kemerahan, berbau tidak sedap .
i. Anjurkan klien menggunakan
spirometer jika dibutuhkan. Ajarkan mengontrol batuk dan napas dalam mungkin
akan lebih efektif. (kolaborasi)
Rasional
Pasien
postoperasi bedah abdominal diajarkan batuk dan bernapas dalam dengan
menggunakan spirometer maka hasil oksgenasi tidak berbeda secara signifikan
(Genc, Yildirim &Gnerli, 2004).
j.
Atur oksigen sesuai kebutuhan (Kolaborasi)
Rasional
Pemberian
oksigen untuk memperbaiki hipoksemia (Wong&Elliott, 2009).
|
|
Gangguan pertukaran gas b.d penurunan perifer yang
mengakibatkan asidosis laktat dan penurunan curah jantung.
Definisi: Kelebihan atau deficit pada oksigenasi dan/atau
eliminasi karbondioksida pada membrane alveolar-kapiler
Batasan Karakteristik:
a.
pH darah arteri abnormal
b. pH arteri abnormal
c. Takikardi
d. Penurunan karbondioksida
e. Hipoksia
f. Dispnea
|
Setelah dilakukan tindakan keperawaran 1x 24 jam
diharapakan pertukaran gas normal.
a.
Respiratory
status:
Gas exchange
b. Respiratory status:
ventilation
Kriteria hasil:
a.
Mendemonstrasikan
peningkatan ventilasi dan oksigenasi yang adekuat
b.
Memelihara
kebersihan paru-paru dan bebas dari tanda-tanda distress pernafasan.
c.
Memberikan
pemahaman supply oksigen dan intervensi terapeutik lainnya.
b.
|
Airway Management
a. Posisikan klien pada respirasi
yang optimal (reposisi setiap 2 jam)
Rasional
Posisi
tegak lurus akan memaksimalkan ekspansi paru, posisi berbaring akan
menyebabkan organ abdominal menekan dada yang akan menekan paru dan membuat
sulit untuk bernapas.
b.
Monitor pola respirasi,
kecepatan, kedalaman
dan
usaha bernafas
Rasional
Kecepatan
napas normal untuk orang dewasa tanpa dispnea adalah 12-16. Dengan sekret di
jalan napas, kecepatan respirasi akan meningkat
c.
Atur oksigen sesuai kebutuhan (Kolaborasi)
Rasional
Pemberian
oksigen untuk memperbaiki hipoksemia
Acid-Base Management
a.
Auskulatasi suara napas
setiap 1-2 jam. Adanya krakles dan
wheezes menandakan obstruksi jalan nafas yang akan menyebabkan eksaserbasi
hipoksia.
Rasional
Ekseserbasi
yang berat terdapat pada penyakit PPOK, suara nafas akan lemah atau menjauh
b.
Monitor perilaku klien dan status mental pada saat agitasi, bingung dan
letargi
Rasional
Perubahan
perilaku dan mental status merupakan tanda dini dari pertukaran gas tidak
efektif.
c.
Monitor efek dari sedasi dan analgesic pada pola nafas klien.
Rasional
Analgesic
dan sedasi dapat menekan respirasi sewaktu-waktu. Namun ada beberapa obat yang
dapat menurunkan system saraf simpatik yang dapat mengatasi hipoksia.
d.
Monitor saturasi secara
berkelanjutan menggunakan oksimetri. Catat hasil
gas darah.
Rasional
Saturasi
pksigen kurang dari 90% (normal 95-100) atau tekanan oksigen kurang dari 80
mm hg (normal 80-100 mm Hg) mengindikasikan masalah oksigenasi.
e.Observasi
sianosis pada kulit, khususnya warna lidah dan membrane mukosa mulut.
Rasional
Sianosis
pusat pada lidah dan mukosa mulut mengindikasikan hipoksia serius dan
kegawatan medic. Sianosis perifer secara ekstrim mungkin akan merangsang
system saraf pusat atau akan merasa dingin.
c.
|
|
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d dyspnea atau anoreksia.
Definisi: Intake nutrisi tidak cukup untuk
keperluan metabolism tubuh
Batasan Karakteristik:
a. Berat badan 20% atau lebih dibawah idela
b. Dilaporkan adanya perubahan sensasi rasa
c. Perasaan ketidakmampuan untuk mengunyah makanan
d.
Keengganan untuk makan
e.
Suara usus hiperaktif
f.
rambut rapuh (rontok)
|
Setelah dilakukan tindakan keperawaran 1x 24 jam
diharapkan nutrisi yang seimbang dapat memenuhi kebutuhan tubuh.
a.
Nutritional
status: food and fluid intake
b.
Nutritional
status: nutrient intake
Kriteria hasil:
a.
Adanya
peningkatan berat badan sesuai dengan tujuan
b.
Tidak
ada tanda malnutrisi
c.
Menunjukkan
peningkatan fungsi pengecapan dan menelan
d.
Tidak
terjadi penuruan berat badan yang berarti
|
Nutrition Management
a. Observasi kemampuan klien untuk
makan (waktu, keterampilan motorik, ketajaman penglihatan, kemampuan untuk
menelan berbagai makanan). Alokasikan 35 menit untuk makan.
Rasional
Klien rentan terhadap malnutrisi
protein-kalori saat mereka tidak mampu makan. EB: penelitian menunjukkan
waktu makan kurang dari 35 menit maka klien akan dapat memakan makanannya
(Simmons, Osterweil & Schnelle, 2001; Simmons & Schnelle, 2004;
Simmons, 2004)
b. Bandingkan makanan sehari-hari
dengan piramida makanan,jangan menghilangkan kelompok makanan yang sesuai
standar.
Rasional
Menghilangkan kelompok makanan
akan menyebabkan peningkatan risiko defisiensi
c. Monitor yang termasuk tanda-tanda malnutrisi
rambut rapuh, kulit kering, kulit dam konjuntiva pucat, lidah merah dan
disorientasi (Fauzi et al, 2008)
Rasional
Untuk
memantau keadaan pasien sehingga dapat memberikan tindakan yang sesuai
d. Jika klien anoreksi dan muntah
karena efek samping obat-obatan, berikan cairan setiap hari dengan sedikit
gula misal permen.
Rasional
Tindakan ini dapat membantu
menstimulus saliva (Dimaria-Ghalili & Amella, 2005)
e. Siapkan makanan untuk klien.
Bersihkan bekas eksresi maupun benda yang berbau. Mencegah prosedur invansive
sebelum makan
Rasional
Lingkungan yang nyaman dapat
meningkatkan intake makan.
Kolaborasi
f.
Monitor
intake makanan, catat persentase penyajian makanan yang telah dimakan (25%,
50%). Ambil catatan makanan selama 3 hari untuk menentukan makanan yang
benar, konsultasi dengan ahli gizi untuk menghitung kalori.
Rasional
Menggunakan catatan makanan harian
untuk menolong klien dan perawat untuk memeriksa makanan yangbiasa dimakan,
pola makan, ada tidaknya defisiensi dalam diet (Shay, Shobert & Seibert,
2009).
|
|
Kurang pengetahuan mengenai kondisi, aturan pengobatan
b.d kurangnya informasi. tentang proses penyakit dan penatalaksanaan
perawatan dirumah.
Definisi
Ketidaktahuan atau defisiensi informasi kognirif yang
berkaitan dengan topic tertentu.
Batasan Karakterstik:
a.
Ketidakakuratan
mengikuti perintah
b.
Perilaku
tidak tepat (agitasi, apatis)
c.
Ketidakakuratan
mengikuti tes
|
Setelah
dilakukan tindakan perawatan berupa pemberian informasi 1xpertemuan selama 45
menit diharapkan mengetahui tentang penyekit, kondisi, aturan pengobatan.
Knowledge:
disease process
Kriteris
Hasil:
a.
Pasien
dan keluarga menyatakan pemahaman tentang penyakit, kondisi, prognosis dan
program pengobatan
b.
Pasien
dan keluarga mampu melaksanakan prosedur yang dijelaskan dengan benar.
c.
Pasien
dan keluarga mampu menjelaskan kembali apa yang dijelaskan perawat/tim
kesehatan lainnya.
|
Teaching: Disease Procces
a. Pertimbangkan kesiapaan klien
untuk pembelajaran (kemampuan melihat atau mendengar, ada tidaknya nyeri,
kesiapa emosional, motivasi, dan pengetahuan sebelumnya)
Rasional
Banyaknya pembelajaran disesuikan
dengan kesiapan klien agar klien dapat memahami pembelajaran.
b. Gambarkan proses penyakit degan tepat
Rasional
Klien dapat mengetahui proses penyakit
c. Gambarkan tanda dan gejala yang
biasa muncul pada penyakit, dengan cara yang tepat
Rasional
Klien
mengtahui penyakitny seara dini dan mempesiapkan penanganan yang akan
digunakan
d. Jelaskan patofisiologi dari
penyakit dan bagaimana hal ini berhubungan dengan anatomi dan fisiologi
dengan cara yang tepat.
Rasional
Klien mengetahui perjalan penyakit
e. Diskusikan pilihan terapi atau
penanganan
Rasional
Penyakit yang diderita klien dapat
segera diobati dan ditangani dan memilih terapi yang digunakan.
|
|
Hipertemi b.d infeksi
Definisi: Suhu tubuh diatas rentang normal
Batasan Karakteristik:
a.
Kenaikan
tubuh diatas rentang normal
b.
Pertambahan
RR
c.
Takikardi
|
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan 6x 24 jam diharapkan suhu kembali dalam
rentang normal
a.
Thermoregulation
Kriteris
Hasil:
a.
Suhu
tubuh dalam rentang normal
b.
Nadi
dan RR dalam rentang normal
|
Fever Management
a. Ukur temperature klien dengan
menggunakan thermometer setiap 1-4 jam tergantung tingkat panasnya dan
perubahan kondisi klien (perubahan status mental)
Rasional
Pengkuran temperature oral lebih
akurat daripada pengukuran timfani, aksila (Hill, 2004; Fallis, Hamelin
&wang, 2006; Devrim et al 2007; Frommelt, Ott &hay, 2008).
b. Gunakan cara dan tempat yang sama
dalam mengukur suhu klien agar mendapatkan pengukuran yang akurat, catat
tempat pengukuran temperature.
Rasional
Perbedaan tempat akan menghasilkan
pengukuran yang berbeda (oral, rectal,aksila) (Devrim et al, 2007; Frommelt,
Ott &Hays, 2008; O’Grady at el, 2008)
Kolaborasi
c. Kaji kehilangan cairan dan intake
oral atau pemberian cairan intravena jika diperlukan untuk mengganti cairan.
Rasional
Peningkataaan kecepatan metabolic dan diaphoresis
berhubungan dengan penyebab panas karena kehilangan cairan (Heckemberg, 2008)
d. Bekerja sama dengan dokter untuk
memutuskan penyebab naiknya suhu, yang akan membantu pada perawatan lebih
lanjut.
Rasional
Mengumpulkan kultur sebelum
memberikan obat antibiotic (O’gady et al, 2008) pastikan gambaran yang cepat.
Ini biasanya penting untuk mengobati penyebab dasar naiknya suhu dibandingkan
deng mengobati gejala panas (Henker &Carlson, 2007; Dellinger et al, 2008)
e. Berikan antipiretik sesuai order
dokter , ketika panas tidak adaptive atau ketika suhu lebih sampai 38.3o
C, ketika klien tidak dapat mentoleransi peningkatan metabolic.
Rasional
Eliminasi
panas akan menganggu perbaikan respon imun, tapi tingginya panas akan
meningkatkan penggunakan oksigen dan kecepatan metabolic yang mungkin
tidak dapat di toleransi oleh klien dengan sakit akut (Henker &Carlson,
2007)
|
|
Risiko infeksi: faktor risiko insufiensi pengetahuan
tentang pencegahan pemaparan pathogen
Definisi: Peningkatan risiko masuknya organism pathogen
Kriteria Hasil:
a.
Prosedur
infasif
b.
Malnutrisi
c.
Peningkatan
paparan lingkungan pathogen
d.
Ketidakadekuatan
imun buatan.
e.
Kurang
pengetahuan untuk mengindari paparan patogen
|
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan1x24 jam diharapkan risiko infeksi akan
berkurang.
a.
Immune
status
b.
Risk
control
Kriteris
Hasil:
a.
Klien
bebas dari tanda dan gejala infeksi
b.
Menunjukan
kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi
c.
Menunjukan
perilaku hidup sehat
d.
Jumlah
leukosit dalam batas normal
|
Infection Protection and Control
a. Observasi dan laporkan tanda
infeksi seperti kemerahan, hangat, peningkatan suhu tubuh.
Rasional
Pengawasan untuk perawatan
kesehatan pencegahan infeksi pada unit hemotologi-onkologi termasuk panas
tidak diketahui sebagai suatu yang biasa (Engelhart et al, 2002)
b. Monitor kehilanga berat badan, 25%
atau lebih karena makanan yang tidak dimakan
Rasional
Study ini menunjukkan tanda
malnutrdi protein kalori
c. Anjurkan intake cairan
Rasional
Intake cairan dapan membantu sekresi
dan mengganti kehilangan cairan saat panas.
d. gunakan cuci tangan bersih.
Rasional
Tindakan pencegahan infeksi yang
cermat dapat mencegah terjadinya infeksi misal cuci tangan berish dan
pencegahan stamdar (CDC, 2002; Gould, 2004).
|
|
Kelebihan volume cairan
b.d kelebihan asupan cairan.
Definisi : Peningkatan retensi cairan isotonic
Batasan karakteristik:
a. gangguan elektrolit
b. ansietas
c. edema
d. gelisah
|
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama ….. diharapkan cairan akan seimbang.
Noc:
a.
Fluid
Management
b.
Fluid
Monitoring
Kriteria
Hasil:
a.
Terbebas
dari edema, efusi, anasarca
b.
Bunyi
napas bersih.
c.
Terbebas
dari kelelahan, kecemasan dan kebingungan
d.
Penjelasan
tindakan yang diperlukan untuk mengobati dan mencegah kelebihan volume cairan
dan pembatasan makanan dan obat-obatan.
|
Fluid Monitoring
a. Monitor lokasi dan luas edema,
gunakan skala 1-4 untuk kuantitas edema. Catat perbedaan pengukuran diantara
ektremitas.
Rasional
Edema biasanya berhubungan dengan
penurunan tekanan onkotic sebagai akibat dari sindrom nefrotic. Gagal jantung
dan gagal ginjal bias any berhubungan dengan edema karena peningkatan tekanan
hidrostatik, edema akan menyebabkan bengkak pada kaki. (Fauci et al, 2008)
b. Monitor peningkatan berat badan yang
tiba-tiba, gunakan skala yang sama dan tipe pakaian yang sama pada hariyang
sama, terutama sebelum makan pagi.
Rasional
Perubahan berat badan menunjukan
perubahan volum cairan tubuh.
EB: berat badan sebagai indicator
untuk memonitor kelebihan cairan ketika hiperhidrasi saat dosis kemoterapu
yang tinggi (Mank et al, 2003)
c. Monitor intake dan output, catat hasil
penuruan urin output hubungan dengan intake cairan.
Rasional
Mengukur secara akurat intake dan
output penting bagi klien ynag mengalami kelebihan volum cairan. EBN: sebuah
study didapat untuk menilai intake cairan, (McComell et al, 2007)
d. Monitor vital sign, catat penuruan
tekanan darah, takikardi, dan takipnea. Monitor ritme gallop. Jika tanda
gagal jantung ada, lihat rencana keperawatan untuk penuruan cardiac output.
Rasional
Hasil gagal jantung adalh
penurunan kardiak output dan penuruan tekanan darah. hipoksia menstimulus
peningkatan jantung dan respiratory.
e. Monitor perilaku klien pada saat
kegelisahan, kecemasan, atau kebingungan. Gunakan tindakanpencegahan yang aman jika ada
gejala.
Rasional
Ketika kelebihan cairan kompromi
kardiak output, klien mungkin mengalami hipoksia jaringan otak, dank lien
mungkin akan lelah dan cemas. Saat kelebihanvolume cairan hasil hipnatremia,
gejala seperti agitasi, iritabilatas, perilaku yang tidak tepat, bingung
(Fauci et al,2008)
f.
Monitor
efek samping dari terapi diuretic: hipotensi ortotastic, hipovolemia dan
keseimbangan elektrolit.
Rasional
Observasi hiperkalemia pada klien
yang mendapat potassium diuretic (fauci et all, 2008)
g. Siapkan jadwal istirahat.
Rasional
Bed rest mempengaruhi dieresis
mengurangi bendungan vena perper, hasil peningkatan volume intravascular dan
rate filtasi glomerulus.
Kolaborasi
h. Pengaturan pemberian obat diuretic
pada waktu yang tepat, cek tekanan darah sebelumnya. Jika IV diuretic, catat
jumlah urine output.
Rasional
Panduan latihan klinik pada gagal
jantung dengan memonitor I-O yang berguna memonitor pengaruh terapi diuretic
(Jessup et al,2009)
i. Konsultasikan dengan dokter tadan
dan gejala kelebihan volum cairan menetap atau tambah buruk.
Rasional
Karena kelebihan volum cairan
dapat karena edema paru, itu harus diobati segera dan cepat (Fauci et al,
2008)
|
|
Nyeri akut b.d agen cedera (fisik)
Definisi: pengalaman sensori dan emosional yang tidak
menyenangkan yang muncul akibat kerusakan jaringan yang actual atau potensial
atau digambarkan dalam hal kerusakan sedemikian rupa (International
Association for the study of pain): awitan yang tiba-tiba atau lambat dari
intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau
dipresikdia dan berlangsung <6 bulan.
Batasan Karakteristik:
a.
Perubahan
selera makan
b.
Perubahan
tekanan darah
c.
Perubahan
frekeunsi jantung
d.
Perubahan
frekuensi pernapasan
e.
Mengekspresikan
perilaku (gelisah)
f.
Fokus
menyempit
g.
Melaporkan
nyeri secara verbal
|
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan setiap 2 jam sekali diharapkan nyeri akan
berkurang.
a.
Pain
level
b.
Pain
management
kriteria hasil:
a.
Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri,
mampu menggunakan tekhnik farmakologi untuk mengurangi nyeri, mencari
bantuan)
b.
Melaporkan
bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri
c.
Mampu
mengenali nyeri (skal, intensitas, frekuensi, dan tanda nyeri)
d.
Merasakan
rasa nyaman setelah nyeri berkurang.
|
Pain Management
a. Kaji level nyeri pada klien secara
benar dan menggunakan alat yang terpercaya,seperti skala nyeri 0-10.
Rasional
Langkah pertama mengkaji nyeri
untuk menentukan jika klien dapat mempersiapak dirnya sendiri. Bertanya pada
klien tentang intensitas nyeri menggunakan alat yang tepat (Breivik et al,
2008; Pasero et al, 2009)
b. Kaji adanya nyeri secara rutin
dengan interval yang sama, pada saat vital sign, selama aktivtas dan
istirahat. Kaji nyeri dengan intervens atau prosedur untuk mengetahui
penyebab nyeri.
Rasional
Pengkajian nyeri penting untuk
vital sing dan nyeri dianggap sebagai vital sign yang kelima.
c. Tanyakan pada klien gambaran
tetang nyeri, efektivits managemen nyeri, respon obatan-obatan alagesik,
hubungan tentang nyeri, pengobatannya, informasi yang dibutuhkan
Rasional
Mendapatkan riwayat nyeri klien
dapat membantu mengidentfikasi faktor potensial yang mempengaruhi kesehatan
klien, faktor yang mungkin mempengaruhi intensitas nyeri, respon klien
terhadap nyeri, ansietas dan farmakokinetik analgesic (Kalkman et al, 2003)
d. Menjelaskan pada klien tentang
manajemen nyeri, termasuk farmakologi dan nonfarmakologi, kaji dan ulangi
proses pengkajian, pengaruh potensial yang kurang baik.
Rasional
Salah satu langkah yang penting
mengurangi nyeri adalah mengontrol nyeri ( APS, 2008)
e. Ajarkan dan implementasikan
interventasi nonfarmakologi ketika nyeri saat nyeri terkontrol dengan
intervensi farmakologi.
Rasional
Intervensi nonfarmakologi dapat
digunakan untuk suplemen, tidak dapt diganti, intervensi farmakologi (APS,
2009)
f.
Tanyakan
pada klien nafsu makan, BAB, dan kemampuan istirahat dan tidur. Pemberian
obat dan perawatan untuk mengurangi nyeri.
Rasional
Opioid biasanya mengindukasi
konstipasi dan merupakan masalah pada manajement nyeri. Opioid menyebabkan
konstipasi karena peningkatan motalitas intestinal dan penuruan sekresi
mukosa (Friedman &Dello Bouni, 2001)
g. Gunakan obat analgesic, dukung
klien menggunakan metode nonfarmakologi untuk mengontrol nyeri, seperti
distraksi, relaksasi.
Rasional
Strategi kognitif-behavioural
dapat memperbaiki perasaan klien, pastisipasi aktif terhadap perawatannya
sendiri.
|
Daftar Pustaka
Ackley BJ, Ladwig GB. 2011. Nursing Diagnosis Handbook. An
Evidance-Based Guide to Planning Care.
Ninth Edition. United States of Amerika: Elsevier
Aditama TY. 2005.
Tuberkulosis Diagnosis, Terapi dan Masalahnya. Edisi V. IDI.
Bickley LS, Szilagy P: Guide to physical
examination, ed 10, Philadelphia, 2009, Lippincont, Williams and Wilkins.
Clark AP, Giuliano K, Chen HM: Pulse
oximetry revised, Clin Nurse Spec 20 (6): 268-272, 2006.
Depkes RI. 2002. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis
cetakan kedelapan.
Donahue M:”Spare the cough, spoil the
airway”: back to the basic in airwayclearance, Pediatr Nurs 28 (2): 119, 2002.
Dongoes.
2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3.
Fauci A, Braunwald E, Kasper DL et al:
Harinson’s principles of internal medicine, ed 17, New York, 2008, McGraw-Hill
Genc A, Yildirim Y, Gnerli A:
RReseaching of the effectiveness of deep breathing and incentive spirometry in
postoperative early stage, Fizyoterapi Rehabill 15 (1), 2004.
Main E, Prasad A, Schans C: Conventional
chest physiotherapy compared to other airway clearance techniques for cystic
fibrosis, Cochrane Database Syst Rev, (1): CD002011, 2005.
Mandal BK.,Wilkins EGL., Dunbar EM., Mayon-White RT. 2004. Lecture
Notes: Penyakit Infeksi Edisi Keenam.
Jakarta: Erlangga.
Nielsen KG, Holte K, Kehlet H: Effects
of posture on postoperative pulmonary function, Acta AnaesthesiolScand
47(10):1270, 2003.
Nurarif
AH, Hardhi K. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosis Medis dan
Nanda Nic Noc. Jilid 2. Yogyakarta: Mediaction.
Price, Sylvia A, Lorraine MW. 2005. Patofisiologi
: Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Jakarta: EGC.
Soejadi TB, Desy AA, Suprapto. Analisis faktor-faktor
yang mempengaruhi kejadian kasus tuberkulosis paru. Jurnal Ilmiah PANNMED 2007;
2(1): 13-19.
Teo EY, Txe CW. Renal tuberculosis. N ENGL J MED 2011;
365(12): e26.
Tobing TL. Pengaruh perilaku penderita TB paru dan
kondisi rumah terhadap pencegahan potensi penularan TB paru pada keluarga di
Kabupaten Tapanuli Utara. Tesis. Medan: Sekolah Pasca Sarjana USU, 2009.
Van der Schans CP: Conventional chest
physical therapy for obstructive lung disease, Respir Care 52 (9): 1198-1206,
2007.
Wong M, Elliot M: the use of medical
orders in acute care oxygen therapy, Br J Nurs: 18 (8): 462-464, 2009.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar